Salam Sejahtera,

 

Tentu sebagian besar kita mengenal syair lagu berikut:

“Apa yang dicari orang ? UANG !

Apa yang dicari orang ? UANG !

Apa yang dicari orang siang malam pagi petang

UANG !  UANG ! UANG ! …”

 

            Bagi banyak orang UANG/Harta begitu mendominasi tujuan hidup yang utama manusia modern, apalagi yang hidup di kota-kota besar seperti Jakarta. Bahkan jika kita bertanya kepada anak-anak “Papa/Mama kemana ?” jawab mereka “Kerja, cari uang.”. Wow.. wow.. wow, jawaban yang tulus dan memang itulah yang mereka lihat dan dengar dari orang-orang sekitarnya, media-media informasi seperti TV, Radio dan Koran/Majalah; semua menggambarkan bahwa UANG/Harta menjadi tujuan yang utama hidup seseorang.

 

            Namun bagaimanakah kita sebagai Orang Percaya memandang UANG/Harta dan Apakah UANG/Harta sebagai tujuan hidup yang utama?

 

Saya berpendapat bahwa UANG/Harta memiliki 2 arti, yaitu:

1).        UANG/Harta merupakan Berkat dari Tuhan

Saya menyadari benar bahwa apa saja yang telah saya dapatkan hingga saat ini merupakan berkat dari Tuhan. Keluarga yang saya miliki, sejumlah investasi yang dapat kami lakukan, pekerjaan-karir-pelayanan yang ditekuni, termasuk juga UANG/Harta merupakan berkat dari Tuhan.

Uraian penciptaan Allah dalam Kejadian 1:1-25 memberikan pemahaman kepada saya bahwa Allah terlebih dahulu menyediakan bagi kehidupan saya. Di dalam Mazmur 23, saya merasakan bahwa Allah memelihara dengan amat baik. Dan Amsal 10:22 “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya”.

Ayat-ayat tersebut bagi cukup untuk memberikan pemahaman bahwa UANG/Harta merupakan berkat dari Tuhan saya.

 

2).        UANG/Harta merupakan Tanggung Jawab

Hal ini juga saya pahami dengan kerendahan hati dan kesadaran sebagai respon kepada Tuhan atas UANG/Harta yang diberikan maka saya seharusnya mempertanggungjawabkannya dengan benar kepada Tuhan yang memberikan dan kepada hal-hal lain disekitar saya yang Tuhan gerakkan untuk saya lakukan sesuatu dengan bijaksana dan memohon pertolongan RohNya yang kudus agar hatiku diberikan kepekaan menuruti kehendakNya.

Dan kalau kita membaca di dalam kitab Ulangan 12:6 ada 6 jenis yaitu “korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu”. Dalam bahasan berikut saya akan angkat 3 hal yaitu kepada Tuhan, kepada GerejaNya dan kepada Pemerintah.

a.           Bertangungjawab kepada Tuhan dengan mengembalikan apa yang menjadi hak Tuhan (Imamat 27:30 “Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN”; Maleakhi 3:10 “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan”) yaitu persembahan persepuluhan, ini menjadi kewajiban yang harus dilakukan.

b.          Kepada GerejaNya yaitu dengan memberikan persembahan sebagai ucapan syukur dalam bentuk persembahan sulung, persembahan kolekte/tatangan dan persembahan khusus lainnya melalui GerejaNya (Gereja dimana kita mengikatkan diri sebagai bagian dari gereja dan Lembaga Pelayanan Kristiani). Mendukung pelayanan dan penginjilan melalui UANG/harta yang Tuhan berikan.

c.           Kepada Pemerintah dengan taat membayar pajak dengan sukacita sebagai penerapan dalam mempertanggjung jawabkan UANG/Harta (II Tawarikh 24:8-10; Matius 22:21; Lukas 20:25; Roma 13:6-7). Tentunya juga kita berdoa agar pemerintah dam\pat mempergunakannya dengan bijaksana demi kemakmuran bersama.

 

Demikianlah selindah ide yang dapt saya tuliskan, dengan harapan bermanfaat bagi semua yang membacanya. Soli Deo Gloria