Kepemimpinan merupakan hal yang terpenting dalam suatu lembaga atau persekutuan. Kepemimpinan dianggap sebagai faktor penentu dalam kesuksesan kerja. Maju mundurnya suatu kelompok atau organisasi banyak dipengaruhi oleh kepemimpinannya.

Di dalam Alkitab, tertulis pada kitab Amsal 11:14 “Jika tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa”.  Maka melalui ayat ini kita dapat mengerti dengan jelas bahwa peran Kepemimpinan sangatlah besar dalam memajukan kelompok atau organisasi yang dipimpinnya.

Telah menjadi keharusan bahwa di dalam setiap kelompok masyarakat dirasakan perlu adanya Kepemimpin. Hal ini tidak hanya berlaku dalam kelompok atau organisasi yang besar tetapi juga dalam kelompok atau organisasi yang lebih kecil.

Kepemimpinan yang membangun hanya dapat dilaksanakan oleh sekelompok orang (pelayan) yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi orang atau sekelompok orang, yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, dan mengevaluasi pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama.

Namun kenyataan secara umum bahwa dewasa ini kita sedang mengalami krisis di bidang Kepemimpinan. Hal itu juga terjadi juga di dalam Gereja.

Pelayanan Gereja merupakan rangkaian proses membangun jemaat agar mampu melaksanakan tugas panggilan dalam pelayanannya. Membangun pertumbuhan jemaat merupakan usaha Gereja untuk mendewasakan jemaat, agar melalui proses belajar dan mengalami perubahan diri yang terus menerus, jemaat diperlengkapi untuk  mau dan mampu bersaksi, bersekutu dan melayani Gereja serta di tengah-tengah masyarakat pada umumnya.

 Gereja sebagai organisasi, harus terus hidup dan menjadi berkat bagi jemaat dan masyarakat sekitarnya. Gereja sebagai kumpulan orang percaya harus memperlengkapi jemaat dan dalam hal inilah Kepemimpinan Gereja berkarya seperti halnya yang tertulis dalam Amsal 27:17, “ Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya”.

Kepemimpinan Gereja adalah perwujudan campur tangan Tuhan yang telah dipersiapkan oleh Sang Empunya Gereja, seharusnya menyadari bahwa membangun pertumbuhan jemaat adalah sangat penting. Kepemimpinan Gereja bukan semata-mata merupakan duplikat dari sebuah Kepemimpinan duniawi yang sudah terbukti keberhasilannya dan dengan begitu saja dapat dengan mudah diterapkan dalam Kepemimpinan Gereja.

Kepemimpinan Gereja  yang membangun pertumbuhan jemaat hanya dapat terlaksana dengan baik jika tidak hanya dibangun dengan satu-dua aspek saja. Misalnya aspek kepemimpinan atau aspek manajemen saja, aspek organisasi atau aspek administrasi saja. Menurut penulis keseluruhan aspek tersebut di atas harus harus berpadu menjadi satu kesatuan, yang utuh dan bersinergi di dalam Kepemimpinan Gereja.

Kepemimpinan Gereja bukan pemimpin tunggal yang hanya memerintah dan mengatur saja, melainkan harus berperan secara aktif dalam setiap aspek-aspek diatas. Dan ada 5 (lima) peran aktif yang dilakukan oleh Kepemimpinan Gereja yaitu dapat berperan sebagai Pemimpin Rohani, berperan sebagai Manajer Rohani, berperan sebagai Organisator Rohani, berperan sebagai Administrator Rohani dan juga berperan sebagai Penatalayan Jemaat.

 

Kiranya membuka wawasan kita pentingnya Kepemimpinan Gereja yang berperan secara aktif dan mampu bersinergi satu dengan lainnya, melayani Tuhan melalui GerejaNya.