Dalam diskusi ringan dengan beberapa teman membahas pemadaman listrik bergilir – terjadwal (beberapa website menuliskan hal ini) disebagian besar wilayah Jakarta serta kota-kota lain dan rencana   mengenai pengalihan jam kerja industri dan perkantoran-mal diatas jam 22.00 WIB (http://www.detiknews.com/prokontra/detail/2008/07/15/065030/971902/612/dilarang-mejeng-di-mal-)… dengan alasan pemborosan dan tidak efisien yang dilakukan oleh masyarakat dan dunia usaha dalam penggunaan listrik, menghasilkan bermacam tanggapan. Ada yang raut wajahnya agak melipat dan mengernyitkan dahi, ada yang matanya terbelalak heran dengan mulut terbuka, ada yang segera berkomentar dengan beragam argumentasi dan ada juga yang without expression,

Jelas.. pemadaman listrik berdampak langsung pada aktifitas rumah tangga dan dunia industri. Peralatan listrik rumah tangga tidak dapat berfungsi, seperti AC, kulkas, TV, rice cooker/magicjar, radio/tape/cd/dvd player, dan banyak lagi lainnya. Biaya tambahan bagi industri karena tidak tercapainya target produksi, biaya lembur, biaya bahan bakar untuk mengoperasikan genset, dan lainnya penunjang kegiatan produksi.

Masak sih tinggal di Jakarta, Kota Metropolitan, Ibukota Negara,.. Haré géné mesti gelap-gelapan jam 22.00 WIB. Gak bisa refreshing dari kepenatan kerja dengan menikmati malam ditemani terangnya lampu-lampu. Ini Jakarta lho…

Saya berharap agar pemerintah lebih bijaksana dalam menetapkan keputusan-keputusan strategis yang berdampak langsung atau tidak langsung dengan masyarakat banyak. Saya mendukung upaya-upaya efesiensi demi kepentingan bersama, namun pemerintah juga harus meng-efisiensikan dirinya, mengevaluasi kinerjanya dan berkomitmen untuk jujur (janganlah ada dusta diantara kita) dalam menjalankan amanat yang dipercayakan kepadanya.

Selamat berjuang kepada mereka yang jujur. Bertobatlah kepada mereka yang tidak jujur.