PUASA

Kata “Puasa” saya pikir akan lebih banyak diungkapkan pada waktu-waktu ini. Terlebih lagi bagi umat “saudara sepupu” yang pada bulan Ramadhan ini mereka diwajibkan untuk berpuasa, sebagai salah satu kewajiban agama selama sebulan penuh. Berpuasa juga dapat ditemukan pada ajaran-ajaran agama atau kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa lainnya. Mereka juga mengajarkan “puasa” kepada para pengikutnya, umumnya puasa merupakan suatu aktivitas menghindari makanan dan minuman dalam jangka waktu tertentu.

Lalu bagaimana sih pemahaman mengenai “puasa” dan cara melakukannya?

Pencarian kata “puasa” dengan Program Alkitab Versi 2.6, dalam 2 detik, didapatkan 67 kali kata tersebut dituliskan. Dan jika kata “puasa”di tambahkan “ber”, menjadi kata kerja “berpuasa”, terdapat 55 kali dituliskan dalam Terjemahan Resmi program Alkitab tersebut.


Dalam Perjanjian Lama puasa kulihat sebagai wujud penyesalan, pengakuan dosa, perkabungan, dan pola hidup saleh. Sedangkan dalam Perjanjian Baru (PB), dimulai dengan keteladanan Yesus dalam berpuasa (Matius 4:1-11). Disana setelah Ia berpuasa, Dia mulai dicobai oleh iblis. Dan Yesus berhasil mengatasi godaan iblis itu bukan karena Dia berpuasa, tetapi karena Dia selalu memakai firman Allah untuk menjawab tantangan iblis. Firman Allah-lah yang memenangkan Yesus, bukan puasanya. (Matius 4: 4, 7, 10).


Yesus mengkritik cara orang berpuasa (Matius 16: 16-18 “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”). karena yang dikehendaki bukan aktifitas puasanya tetapi sikap hati yang tulus.

Seperti yang tertulis dalam ayat di atas, kalau kita berpuasa janganlah menunjukkan kepada orang lain bahwa kita sedang berpuasa, biarlah itu menjadi hubungan pribadi kita yang intim dengan Tuhan.

Menurut saya berpuasa itu baik, karena Alkitab juga menuliskan mengenai berpuasa. Namun jangan juga kemudian menilai orang yang tidak berpuasa berarti orang tersebut kurang rohani. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi (Lukas 5:33 “Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.”). Mungkin saja ia tidak berpuasa karena sedang sakit atau alasan lain yang cukup dapat diterima secara umum.

Rekan-rekan yang ingin berpuasa, berpuasalah dengan sikap hidup dan pemahaman yang benar berdasarkan firman Tuhan. Bagi rekan-rekan yang tidak ingin berpuasa, anda tidak berdosa kok. Namun kalo ada kesempatan untuk berpuasa, berpuasalah bagi pelayan dan pelayanan pemberitaan Injil diseluruh dunia, bagi Gereja/Anggota tubuh Kristus lainnya, bagi keluarga dan pertumbuhan rohanimu di dalam Tuhan Yesus.

Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik

I Tesalonika 5:21