Semalam aku pulang dari kantor cukup malam. Sebelum berangkat dari kantor memang kurasakan udara lebih dingin dari biasanya dan… sekitar setengah perjalanan mulai kurasakan tetesan air menerpa kaca helm dan pergelangan tanganku. Lama-kelamaan ternyata air hujan yang mulanya gerimis mulai bertambah kuantitas debit airnya ato mulai deras laa…, namun aku tetap melajukan sepeda motorku menuju rumah.

Setiba di rumah aku teringat sebuah alat yang terletak di kaca mobil yaitu wiper, berfungsi untuk membersihkan kaca dan menyibakkan air jika hujan menerpa, agar pandangan tidak terganggu dan tidak berakibat hal yang lebih fatal lagi. Seingatku, kecepatan wiper dapat diatur dalam pengunaan kecepatan lambat-sedang-lebih cepat. Jika air hujan yang menerpa hanya gerimis, bisanya pengendara mengunakan kecepatan lambat. Jika kuantitas air hujan agak lebat maka pengendara menggunakan kecepatan sedang. Dan jika air hujannya deras/ deras sekali maka pengendara akan menggunakan kecepatan wiper yang lebih cepat.

Demikian halnya dengan kehidupan kita, setiap kita pasti diperhadapkan dengan pergumulan dan tantangan yang berbeda-beda frekuensi dan kuantitasnya, yang sering mengganggu pandangan kita untuk tetap setia dan berharap kepada Tuhan Yesus. Ada kalanya tantangan/pergumulan yang kita hadapi kecil/ringan, kadang pula tantangan/pergumulan yang kita hadapi itu lebih berat, dan bisa saja tantangan/pergumulan yang kita hadapi semakin berat kita rasakan.

Lalu yang menjadi persoalannya adalah… apakah wiper berfungsi dengan baik jika tantangan/pergumulan melanda hidup kita? Jika dapat berfungsi dengan baik, puji syukur. Namun jika tidak dapat berfungsi dengan baik, apa yang salah dengan hidup kita? Segera perbaiki dengan bertobat dan kembali hidup dengar-dengaran padanya.

Wiper itu adalah penguasaan diri (1 Pet 4:7); yaitu agar kita kuat, mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah dan mengadakan perlawanan terhadap segala kejahatan (Efesus 6:10-18). Dengan hidup sesuai kehendak Allah 1 Tes 2:12.

Agar Wiper dapat berfungsi dengan baik, ia harus terinstalasi dengan baik pada dinamo/sumber arusnya. Maka hidup kitapun harus terinstalasi dengan baik kepada Tuhan Yesus, sumber hidup kita. Melalui hubungan pribadi yang intim dengan Dia, melalui puji-pujian yang kita naikkan kepadaNya dan melalui pelayanan-kesaksian hidup berjalan bersamaNya.

Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. I Yohanes 2:17