Rasul Paulus menuliskan “Kasihilah istrimu (Ef. 5:25, 33)” kepada jemaat di kota Efesus sekitar tahun 62 M, …. sudah lama sekali!. Sedangkan sekarang kita hidup ditahun 2008, berarti sudah sekitar 1946 tahun = 163 bulan = 710.776 hari = 17.058.624 jam…. Kurun waktu yang sangat panjang dan berita ini sudah sangat lama sekali.

 

Namun yang menjadi perhatian kita adalah “Apakah firman (kasihilah istrimu) ini masih relevan untuk jaman sekarang ini?”

 

Lembaga pernikahan dicatat dalam kitab Kejadian. “Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:23-24). Allah menciptakan laki-laki dan kemudian menciptakan perempuan dari “tulang dari tulangku.” Sebagaimana yang dicatat, Allah mengambil salah satu “tulang rusuk” Adam (Kejadian 2:21-22). Kata Bahasa Ibrani ini secara harafiah berarti: sisi/samping dari seseorang.

 

Hawa diciptakan untuk berada di sisi Adam sebagai “bagian dari dirinya,” untuk membantu dan menolongnya. Setelah menikah, laki-laki dan perempuan menjadi “satu daging.” Perjanjian Baru menambahkan peringatan kepada “kesatuan” ini. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6).


Bagian yang terdapat dalam Efesus khususnya adalah dalam sekali dalam kaitannya dengan penikahan Alkitabiah yang berhasil. “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh” (Efesus 5:22-23). “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25). “Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” (Efesus 5:28-29). “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (Efesus 5:31).

 

Melalui surat Efesus kita bercermin bahwa betapa agungnya peran Suami kepada Istri, digambarkan dengan hubungan sebagaimana Kristus mengasihi jemaat. Hmm… kita berhenti sejenak, sebagai jemaatNya… apakah kita cukup layak dikasihi, melihat kebelakang betapa banyaknya kegagalan kita untuk berjalan dalam terang firmanNya yang membuat kita banyak kali terperosok dalam dosa, dikuasai oleh kecemaran dan maunya selalu berjalan menurut kehendak sendiri.

 

Gak cukup layaklah, atau sesungguhnya malah gak layak dikasihiNya. Namun Ia tetap  mengasihi kita. Suami dan Istri adalah manusia biasa yang memiliki kelebihan, kekurangan dan keterbatasan masing-masing – tidak ada yang sempurna.


Ketika prinsip  ini dilakukan oleh suami dan dipadankan dengan hubungan mereka sebagai orang-orang percaya yang sudah lahir baru, inilah kasih Suami kepada Istri yang Alkitabiah, kesatuan antara dua individu yang adalah merupakan gambaran kesatuan yang ada dalam hubungan antara Kristus dengan gerejaNya.

 

Dalam acara persekutuan Komisi Kaum Bapak di gereja, setelah kami mendiskusikan dan saling berbagi pengalaman pribadi untuk mengupas hal ini. Dimulai dari yang usia pernikahannya paling muda (5 tahun) hingga yang paling lama (53 tahun) berumah tangga. Dibahas dari berbagai sudut pandang berdasarkan latar belakakng pendidikan dan pekerjaan. Waktu yang tidak sedikit. Dan akhirnya menjadi kesepakatan kami secara bulat bahwa mengasihi istri itu masih relevan – harus tetap dilakukan dengan setia dan bijaksana  (meskipun-walaupun- apapun yang terjadi), sebagai suami yang taat kepada firman Tuhan. Meskipun istri tidak seperti yang dulu lagi, ‘kecantikannya, senyumnya, candanya, kemolekannya, perhatiannya dll’.

 

 

Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.  I Petrus 3:7