Disebuah koran yang ber-oplah terbanyak mungkin di negeri ini, terbitan Selasa, 16 September 2008, pada halaman 15; Presiden mengajak rakyat berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan mengembangkan semangat kebersamaan dalam membangun bangsa dan negara untuk mencapai kesejahteraan rakyat.

 

 Dihalaman muka beberapa koran seperti Kompas, Pos Kota dan Warta Kota (koran-koran yang ada didekatku untuk kubaca-baca); terdapat berita yang menurutku cukup perlu mendapat perhatian. Tertulis di koran tersebut sebagai Headline, “21 wanita tewas … “. Kejadian bermula dari kebaikan hati seorang kaya yang berniat memberikan zakat kepada yang berhak menerimanya. Ia menyediakan Limapuluh juta ruliah (Rp 50.000.000,-) untuk dibagi-bagikan. Rencananya setiap orang akan mendapat Rp 30.000,- namun panitia melihat jumlah yang mengantri semakin banyak maka diturunkan menjadi Rp. 20.000,- dan terakhir menjadi Rp. 10.000,- per orang.

 

Apa yang terjadi, kebaikan hati seseorang malah menjadi malapetaka/dukacita bagi orang lain. Ditambah lagi komentar dari Depag yang bilang “seharusnya dana pemberiaan tersebut disalurkan melalui BAZ (Badan Amil Zakat)”. Anggota dewan yang terhormat bilang “jika akan melaksanakan kegiatan seperti itu hendaknya berkoordinasi dengan aparat keamanan/kepolisian, tidak hanya kepanitiaan saja”. ** Kenapa tidak melalui/berkoordinasi dengan mereka? Tebak sendiri laa jawabnya….

 

Melihat hal tersebut tanggapan saya adalah:

 

Pertama : Kasihan juga si orang kaya yang baik hati tersebut. Niat baiknya memberikan uang kepada setiap orang yang datang, dengan harapan bisa membantu atau menolong mereka ternyata menjadi musibah bagi setidaknya bagi keluarga korban yang meninggal. Dikomentari/disalahkan oleh mereka yang bersuara mewakili lembaga agama dan lembaga dewan, belum lagi kata orang sekampung. – Namun berbuat baik bagi orang lain perlu terus dilakukan kepada sesama, semampu kita. Dan kepada pihak-pihak lain… jangan OMDO (Omong Doang), kalo tidak melalui/berkoordinasi kepada badan tersebut jangan banyak komentar… intropeksi dan evaluasi laa kemudian berikan pelayanan informasi yang baik kepada masyarakat.

Kedua : Kepada keluarga 21 wanita yang meninggal… akupun turut berbelasungkawa. Semoga Tuhan YME juga memberikan hikmah dan hidayahnya, pelajaran yang berharga dikemudian hari untuk senantiasa mensyukuri berkat-berkat Tuhan.

Ketiga : pesan bahwa kita hidup semata-mata dari berkat Tuhan. Setiap berkat materi kita terima dengan ucapan syukur dan kita kelola dengan bertanggung jawab. Jangan beriman tidak punya/miskin, padahal Tuhan memberikan kecukupan kepada kita. Jika memang ada kelebihan, maka berilah dengan tulus ikhlas.

 

Yakobus 2:15-16 “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?” Mengajarkan bahwa memberi adalah kewajiban orang percaya. Tidak semua orang suka memberi, tetapi kita perlu melatih diri untuk memberi. Memberi tidaklah tergantung dari seberapa besar uang yang kita miliki. Memberi di mulai dengan hati yang mengasihi.

 

Sebagai umat Allah yang telah diberkati, kita harus belajar terus menerus untuk memberi orang-orang yang membutuhkan, tanpa pamrih; dan hal ini harus kita mulai dengan memberi kepada saudara-saudara seiman yang berkekurangan. Memberi adalah menabur dan pada suatu hari kelak kita akan menuai. Tidak perlu menunggu menjadi kaya baru setelah itu kita memberi, tetapi berilah dari yang kita miliki sekarang.

 

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  Ibrani 13:5