Sejak mulai sekolah hingga sebelum menamatkan pendidikan di perguruan tinggi, setiap tahunnya kita memperingati salah satu hari yang bersejarah. Dimana kewibawaan idiologi Pancasila dicoba untuk digoyahkan dan digantikan dengan pemahaman idiologi lain. 30 September 1965, tepatnya… melalui suatu peristiwa tragis, mengorbankan banyak nyawa, tidak hanya ke-7 jenderal saja.

Setiap tanggal 30 September, disemua stasiun televisi dan bioskop-bioskop diputarkan film mengenai kekerasan di tanggal 30 September dan disana juga ditampilkan sosok pahlawan pembela kebenaran. Sehari kemudian, tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, bahwa Pancasila tidak tergoyahkan – tidak dapat tergantikan dengan faham idiologi lain.

Namun dalam berita-berita terakhir dapat kita lihat adanya desakan untuk meniadakan peringatan 30 September dan 1 Oktober. Aku sendiri tidak terlalu faham kenapa. Entah kesalahan sejarah, entah kesalahan seseorang atau sekelompok orang atau ada kepentingan lainnya dibalik itu semua. Aku tidak terlalu faham hal itu dan tidak mau terlalu berkutat disana.

Bagiku, sejarah adalah tetap sejarah. Sejarah adalah masa lalu yang tertinggal dibelakang, namun bukan berarti juga karena merupakan masa lalu hal itu segera dapat dilupakan. Melalui sejarah kita melihat roda kehidupan perjalan seseorang atau perjalan dunia ini. Sejarah bisa menjadi cermin untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Sejarah bisa menjadi motivasi untuk bertindak lebih baik dari masa yang lalu.

Suka atau tidak, masa lalu adalah bagian dari jalannya waktu demi waktu.

Mari kedepannya kita melihat sesuatu lebih jernih lagi, jangan melulu dikaburkan oleh masa lalu. Masa lalu sudah berlalu. Dan kita hidup untuk masa yang akan datang, dengan pandangan yang baru, yang jernih dan matang.