Salam sejahtera,

Berawal dari diskusi dengan seorang rekan seputar Hari Lebaran dan istilah-istilah yang sering disampaikan, salah satunya saya coba mensharingkan arti kata “Minal ‘Aidin Wal Faizin”. Dalam kesempatan ini bukan bukan berarti saya telah mendapatkan yang paling benar sehingga apa yang terlapirkan menjadi paling benar, sekali lagi bukan. Saya hanya mencoba mencari tahu dan apa yang saya dapatkan saya informasikan kembali dengan harapan jika salah – mohon dikoreksi dan jika benar – harap dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

 

Penggunaan istilah-istilah dan kutipan dalam tulisan ini saya tulis dalam cetak miring, selainnya pengantar dan buah penulisan pribadi.

 

Merayakan hari Lebaran bagi masyarakat Indonesia tidak hanya laksanakan oleh masyarakat beragama Islam namun juga diikuti oleh masyarakat non Islam. Ada sebagian non muslim juga acapkali mengikuti perayaan lebaran dengan menyediakan makanan bagi para tamu atau ikut bersilaturahmi dari rumah ke rumah atau sanak saudara. Malahan sekarang ini moment hari Lebaran dipergunakan oleh partai-partai politik untuk menarik simpati masyarakat luas melalui iklan-iklan di mass media, pamflet-pamflet yang disebarkan, spanduk-spanduk dan ada juga kegiatan memberikan bantuan langsung kepada kelompok masyarakat duafa.

 

Moment hari Lebaran juga dimanfaatkan untuk saling memaafkan atas kesalahan yang telah diperbuat sepanjang tahun ini kepada keluarga, sanak-saudara, teman-teman, rekan kantor, dan kolega bisnis.

Biasanya (kebanyakan/sering) sambil berjabat tangan, masing-masing orang berkata “Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir dan batin”.

 

Melalui media televisi maupun radio tentu kita pernah mendengar syair lagu sebagai berikut:

Minal Aidin Wal Faizin

Maafkan lahir dan batin

Selamat para pemimpin

Rakyatnya makmur terjamin

 

Di spanduk-spanduk yang digelar oleh perorangan, kelompok masyarakat, partai, dan perusahaan.. juga ditulis Selamat Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir dan batin”, dan atau kalimat-kalimat sejenisnya.

 

Prof. Dr Abdul Djamil, MA., di koran Tempo, menyampaikan apa makna ungkapan minal aidin wal faizin, yaitu :

Silaturahmi untuk saling memaafkan, biasanya disambung dengan saling mendoakan yang disampaikan dalam ungkapan minal aidin wal faizin, yang artinya kembali dilahirkan dan sebagai pemenang. Inilah manifestasi ibadah puasa Ramadan.

Namun, kebanyakan orang tidak tahu arti leksikal minal aidin wal faizin. Mereka tahunya arti minal aidin wal faizin adalah mohon maaf lahir dan batin. Itu hal pragmatis yang dipahami masyarakat kita. Informasi agama yang detail kurang dimengerti. Mereka melihat bungkus luarnya saja.”

 

Ucapan minal ‘aidin wal faizin sering sekali dijadikan ungkapan selamat dalam hari raya Idul Fitri di negeri kita. Namun, apakah arti kalimat itu? Atau jangan-jangan sebagian kita mengira bahwa arti minal ‘aidin wal faizin adalah mohon maaf lahir dan batin?

 

Saya mencoba mencari bagaimana penulisan dan pemahaman yang lebih tepat, dan menurut detikforum adalah:

1. Minal ‘Aidin wal Faizin = Penulisan yang benar

2. Minal Aidin wal Faizin = Juga benar berdasar ejaan indonesia

3. Minal Aidzin wal Faidzin = Salah, karena penulisan “dz” berarti huruf “dzal” dalam abjad arab

4. Minal Aizin wal Faizin = Salah, karena pada kata “Aizin” seharusnya memakai huruf “dal” atau dilambangkan huruf “d” bukan “z”

5. Minal Aidin wal Faidin = Juga salah, karena penulisan kata “Faidin”, seharusnya memakai huruf “za” atau dilambangkan dengan huruf “z” bukan “dz” atau “d”


Mengapa hal ini perlu diperhatikan? Karena kesalahan penulisan abjad juga berarti makna yang salah. Seperti dalam bahasa inggris, antara Look dan Lock beda makna padahal cuman salah satu huruf bukan?


Pemahaman makna kata-kata “Minal Aidin wal Faizin” acapkali didengar atau ditulis di media massa, di film, sinetron, acara halal-bihalal, atau ketika kita bertemu teman atau sudara. Akan tetapi banyak yang menyangka bahwa arti kata “Minal Aidin wal Faizin” adalah “Mohon Maaf Lahir Dan Batin” seperti yang sering kita dengar. Padahal sama sekali bukan.


Kata-kata “Minal Aidin wal Faizin” adalah penggalan sebuah doa dari doa yang lebih panjang yang diucapkan ketika kita selesai menunaikan ibadah puasa yakni : “Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Wa Ja’alanallahu Minal ‘Aidin Wal Faizin” yang artinya “Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”. Sehingga arti sesungguhnya dari “Minal Aidin wal Faizin” adalah “Semoga kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan”.

– – – –

Penulisan dan arti Minal ‘aidin wal faizin yang saya dapatkan dari salah satu artikel, bila ditulis dengan tulisan arab menjadi,

من العائدين والفائزين
Artinya secara leterleks adalah

“Termasuk orang yang kembali (merayakan hari raya i’ed) dan orang-orang yang menang.”.

Mungkin yang diinginkan adalah sebuah doa bagi yang mendapat ucapan selamat,

“Semoga Anda termasuk orang yang kembali (merayakan hari raya i’ed) dan orang-orang yang menang.”

– – – –

 

Penelusuran saya di http://umam.web.id/, secara harfiah, kalimat kalimat utuh ucapan populer ini adalah:

جَعَلَنَا اللهُ مِنَ العَائِدِينَ وَ الفَائِزِينَ

” Ja’alanallahu minal ‘aidin wal faizin”

dengan makna:

“semoga Allahu menjadikan kita bagian dari orang-orang yang kembali (fitri) dan beruntung”

Beberapa versi yang keluar dari mulut orang indonesia.. ada yang make huruf ز semua.. minal ‘aizin wal faizin.. ada yg ذ semua.. minal a’idzin wal faidzin.. ada yg kombinasi keduanya, minal aidzin wal faidzin.. dan anehnya lagi, kesalahan ini juga sering terjadi di televisi..

ahsan bagi kita, jika ingin mengucapkan tahniah (ucapan selamat) lebih baik menggunakan kalimat:

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ

“semoga Allah menerima ibadah kami dan kalian”

Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

“telah sampai kepada kami riwayat dengan sanad yang hasan dari Jubai bin Nufair, ia berkata: “Jika Para sahabat Rasulullah saling bertemu di hari raya, sebagiannya mengucapkan kepada sebagian lainnya: “Taqabbalallahu minnaa wa minkum”. (Fathul Bari (II) 446)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ditanya tentang ucapan selamat di hari raya, beliau menjawab,

“Ucapan selamat hari raya sebagian mereka kepada sebagian lainnya jika bertemu setelah shalat ‘Id dengan ungkapan: Taqabbalallahu minna wa minkum dan A’aadahullahu ‘alaika serta ucapan sejenisnya, maka hal ini telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat bahwa mereka melakukannya, dan telah diperbolehkan oleh para imam seperti Imam Ahmad,dll. Maka siapa yang melakukannya, ia memiliki panutan, dan yang meninggalkannya pun memiliki panutan.” (Majmuu’ Fatawa (XXIV/253)

– – – –

 

Demikian sharing dari saya. Jika kurang berkenan – mohon respon dan koreksinya. Jika berkenan – mari mempergunakan istilah-istilah dengan lebih baik sesuai maknanya.

 

 

Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran! Mazmur 72:3