Dalam suatu kesempatan aku bertemu dengan seorang kawan dan kami membicarakan beberapa hal dalam waktu yang tidak terlalu lama. Salah satu pembicaraan kami ia mengatakan “Apakah kesalahanku dulu, sehingga dalam kurun waktu beberapa bulan mertuaku meninggal, kesulitan ekonomi, aku dan istri sakit, anakpun sakit hingga harus dirawat di rumah sakit dan sepulangnya saat masih rawat jalan beberapa kali. Apakah Tuhan masih marah kepadaku sehingga aku dan keluarga masih harus menderita”.

 

Kusampaikan kepadanya bahwa “Tuhan tidaklah demikian, Ia bukanlah Tuhan yang pendendam dan pemarah. Sehingga untuk memuaskan dendam dan kemarahanannya, Ia senang melihat-membuat umatnya menderita. Melainkan Ia adalah Tuhan yang pemaaf/pengampun dosa dan menyayangi umatNya yang taat dan setia”. Setelah itu ditambahkan sedikit pembicaraan lagi kemudian kami harus menyelesaikan pertemuan dan kembali bekerja.

 

Selepas pembicaraan aku bersyukur punya Allah yang melimpahkan rahmat pengampunan dan pemulihanNya atas hidupku. Warisan dosa keturunan Kej. 3:5 [Rasul Paulus menuliskannya dalam Roma 5 : 12-21; Yohanes Calvin menuliskannya: “Maka kita yang dihasilkan dari benih yang cemar, semuanya lahir ternoda ketularan dosa; bahkan sebelum kita melihat cahaya, hidup kita sudah ketularan dan najis dimata Tuhan. Dari akar yang busuk, hanya cabang-cabang busuklah yang keluar, yang menyebarkan kebusukannya ke semua ranting yang mereka hasilkan; demikian pula anak-anak telah ketularan didalam orangtua mereka dan menjadi sebab dari pengotoran turunan mereka. Artinya, awal kerusakan yang terdapat dalam diri Adam adalah sedemikian rupa, hingga menjalar bagaikan arus yang terus-menerus dari orangtua ke anak”. (INSTITUTIO : Pengajaran Agama Kristen, hal 60. Terbitan PT. BPK Gunung Mulia cetakan ke 4 – 2003 BPK/2141/1230/03], dosa-pelanggaran yang kulakukan [Mazmur 14:1-3, Roma 3:10-12]; melanggar firmanNya dan menjadi batu sandungan bagi orang lain; ketika aku bertobat-mengakuinya, menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatku, menyerahkan hidupku dalam pimpinan Roh Kudus; Ia membasuhku, mentahirkanku, mengampuniku, menyelamatkanku dan melayakkanku menjadi milik kepunyaanNya. Haleluya !!!

 

Walaupun kita menemukan di dalam Alkitab kata-kata bahwa “Allah dapat murka dan dendam”, perhatikan dan baca-pahami kembali dengan baik konteksnya. Ternyata bukan semena-mena Ia pemarah dan pendendam dan membalaskannya kepada manusia. Karena sebelumnya Ia telah menyatakan hukum-hukum/perintahNya serta konsekuensi jika hal itu dilanggar/ tidak ditaati manusia. Mmm.. kita samakan dulu pemahaman : bahwa hanya Allah saja yang berdaulat dan memiliki otoritas tertinggi. Lalu jika kita berangkat dari hal ini maka menurutku berarti jika Allah marah, dendam dan menghukum; hal itu semata-mata berhubungan dengan kedaulatanNya dan otoritasNya. Tidak lebih dari itu.

 

Mengingat hal diatas bagianku saat ini adalah taat, setia dan berperan untuk menyampaikankannya/mengingkatkan kepada rekan-rekan yang lain. Sebagai orang yang sudah belajar untuk mengetahui hukum dan perintahnya maka seharusnyalah aku tidak melanggarnya, karena ada konsekuensi untuk hal itu. Dan kini kehidupanku yang berdosa telah dipulihkannya.

 

Kalaupun nanti aku menghadapi penderitaan/kesusahan, itu bukan karena dosa dan pelanggaranku pada masa lalu.

Dosa dan pelanggaranku pada masa lalu sudah diputuskan sejak aku menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatku.

Aku telah mati bagi dosa namun aku mau hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, Penyelamat dan Penebus dosaku

Amin.

 

 

“Sebab Kristus telah mati, sekali, untuk segala dosa kita. Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah.
Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya dan kehidupanNya adalah kehidupan bagi Allah.
….. kamu telah mati bagi dosa tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”
(I Petrus 3 : 18, Roma 6 : 10, 11)