Alkitab begitu mengagumkan… seluruh isinya adalah firman Allah (2 Tim. 3:16), dituliskan dengan beragam bentuk. Ada dalam bentuk perintah, bentuk syair, bentuk cerita, bentuk keterangan-keterangan… dan yang akan kusharingkan adalah firmanNya dalam bentuk seperti “koki” yang handal. Maksudnya?

Koki yang dimaksudkan disini bukan Ikan Mas Koki atau salah satu cara penghitungan tahun di Jepang berdasarkan tahun kenaikan Kaisar Jimmu, melainkan Koki yang dimaksudkan disini adalah seseorang pemasak handal yang memakai “celemek”, profesi seseorang yang bertugas meracik berbagai bahan, bumbu, memasak untuk sebuah tempat makan untuk kemudian disajikan kepada penikmat masakannya.

Menurut Wikipedia, Koki atau juru masak adalah orang yang menyiapkan makanan untuk disantap. Istilah ini kadang merujuk pada chef, walaupun kedua istilah ini secara profesional tidak dapat disamakan. Istilah koki pada suatu dapur rumah makan atau restoran biasanya merujuk pada orang dengan sedikit atau tanpa pengaruh kreatif terhadap menu dan memiliki sedikit atau tanpa pengaruh apapun terhadap dapur. Mereka biasanya adalah semua anggota dapur yang berada di bawah chef (kepala koki).

Nah… Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose inginkan agar kita dalam berkata-kata, dalam memberi jawab kepada setiap orang – berlaku seperti halnya seorang koki yang handal, yang mempersiapkan perbendaharaan kata-kata kita dengan sebaik-baiknya. Tidak asal ucap (asal bunyi). Melainkan kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah kata-kata penuh kasih dan tidak hambar

Kata-kata yang penuh kasih dan tidak hambar adalah ucapan syukur dan kata-kata yang suci. Kata-kata yang tidak penuh kasih dan hambar adalah perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono (Efesus 5:4), dan yang tidak suci (I Timotius 6:20; II Timotius 2:16), karena hal-hal tersebut tidak pantas dan hanya menambah kefasikan. Di dalam Yakobus 3:10 juga dituliskan “dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi”.

Bagaimana caranya agar kata-kata yang keluar dari mulut kita adalah kata-kata penuh kasih dan tidak hambar? Menurutku di mulai dari sumber perbendaharaannya yaitu hati. Berikan hati kita untuk diperbaharui olehNya melalui firmanNya dan pimpinan Roh Kudus. Memiliki hubungan pribadi yang intim dalam membaca-merenungkan firmanNya, dalam doa-ucapan syukur, dan dalam pengalaman pribadi (kesaksian) hidup yang dibaharui dan dipimpinanNya.

Melalui perenungan ini aku kembali diingatkan agar lebih kuat lagi berusaha mempersiapkan, mengendalikan dan menyajikan perkataan agar penih kasih dan tidak hambar. Ternyata betapa banyaknya kata-kataku yang sia-sia bahkan tidak menjadi membangun diri sendiri dan orang lain. Aku mau mencoba lagi sebagai “koki kata-kata” yang dapat dinikmati dan menghasilkan syukur-pujian bagi Bapa. Ingatkan saya ya rekan-rekan untuk mengerjakan hal ini. Tks n Jbu.

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. Kolose 4:6