Hari Sabtu 11.10.08 di acara arisan, aku bertemu dengan Namboru Dian yang baru kembali dari Tarutung. Sedikit sekali pembicaraan kami mengenai pengalaman disana, kukatakan “besoklah cerita-cerita lebih banyak sepulang gereja” dan Namboru mengiyakannya.

 

Keesokan harinya, setelah menyelesaikan tugas-tugas, sepulang gereja kami bertemu kembali di rumah bapak. Aku dan istri mendengar lebih lengkap apa-apa yang terjadi di Sumatera, salah satunya yang menjadi inti pembicaraan kami adalah bahwa Opungku sakit diusia tuanya. Namboru bercerita cukup detail apa yang terjadi, interaksi mereka dan pendapatnya mengenai sakit yang diderita Opung. Kasihan sekali kurasa, Opung diusia tuanya harus payah karena sakit.

 

Kami juga membicarakan beberapa alternatif untuk menemani dan membantu Opung. Jika Opung tetap di Tarutung apa yang akan kami lakukan, dan jika Opung kami bawa ke Jakarta apa-apa yang akan kami lakukan. Dan… bagaimana jika kami atau perwakilan dari kami menemani Opung disana.

 

Doaku, jika Tuhan berkenan Opung berumur panjang kumohon agar kesehatan Opung segera pulih. Namun jika Tuhan berkehendak lain, jadilah kehendakMu ya Tuhan namun mohon agar Opung tidak terlalu payah karena sakit.

 

 

 

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. Yesaya 46:4