Terpujilah Tuhan kalau kami memiliki rencana untuk mengadakan liburan bersama keluarga inti (Lian-Gina-Kasih-Mikhael Sinaga) untuk pergi ke luar kota. Maka kami sepakat untuk menabung, termasuk anak-anak. Mereka sudah kami bukakan tabungan pribadi, atas nama pribadi dan dilengkapi dengan kartu ATM dengan photo masing-masing. Mereka sangat senang dengan kesepakatan kami bersama dan lagi ditambah dengan tabungan mereka. Kami ingin mengajarkan anak-anak bahwa untuk mendapatkan sesuatu harus berusaha, salah satunya dengan menyisihkan uang mereka untuk kemudian ditabung.

Senin 27-10-2008, setelah kami mendengar bahwa Opung kami kembali kepada Bapa di Sorga, sekilas kami sampaikan kepada anak-anak bahwa papa-mama akan pulang kampung untuk mengikuti proses penguburan Opung kami dan anak-anak tidak ikut, karena mereka masih harus sekolah, les dan belajar di rumah. Ditambah lagi, kami harus tetap memelihara kesepakatan menabung untuk dapat berlibur ke luar kota bersama. Istriku, Gina yang menyampaikan hal itu kepada anak-anak.

Namun satu komentar mereka yang disuarakan oleh Kasih, putri kami yaitu “ma… ini lebih penting!”. Aku terdiam, mencoba merenungkan betapa dalamnya arti kalimat tersebut. Seusianya, umur 8 tahun, kelas 3 SD, memiliki pengertian yang dalam dan luhur. Bagaimana anak seusianya, yang biasanya lebih suka bermain dan becanda, namun dapat berfikir demikian setelah mendengar penjelasan mamanya bahwa kami akan ke Samosir dan mereka tinggal di rumah?

Akhirnya kami putuskan bahwa anak-anak (Kasih dan Mikhael Sinaga) akan ikut ke Samosir melihat proses pemakaman Opung kami.

Dan puji Tuhan, kami telah memperoleh tiket pergi-pulang Sumatera Utara – Jakarta. Segala kebutuhan kami mohonkan Tuhan menolong. Melindungi dan menjaga kami sepanjang perjalanan. Memberikan kesehatan dan damai sejahteranya kepada kami, keluarga lain yang ikut serta dari Jakarta-Bandung, dan juga keluarga yang sudah terlebih dahulu tiba di Samosir.

Terima kasih Tuhan.

 

Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Ayub 42:2