opung-05a2Peringatan Hari Pahlawan tahun ini (10 November 2008) menurutku tidak begitu terasa. Memang kantor-kantor pertahanan keamanan seperti TNI dan Polri masih diadakan upacara memperingati Hari Pahlawan. Di sekolah-sekolah, atau karena kebetulan saja sekarang adalah hari Senin… dimana siswa/i melaksanakan upacara. Sedangkan bagi sebagian besar masyarakat “hampir-hampir lupa” bahwa hari ini adalah salah satu hari yang penting dalam kalender perjalanan hidup bangsa Indonesia.

Beberapa bulan yang lalu di mass media ramai dibicarakan “seorang” pelaku sejarah yang sudah “hilang” menampilkan dirinya sebagai pahlawan pejuang. Namun akhirnya, tidak ada data-data otentik yang mendukung, keluarganya dan rekan-rekannyapun mengolok-olok dia. Beberapa waktu kemarin, ada orang-orang atau beberapa kelompok masyarakat yang berkeinginan kuat mengajukan “somebody” menjadi pahlawan bagi kelompok tertentu. Hmm… beragam tanggapan masyarakat mengenai “kepahlawanan somebody” tersebut, tak kukupaslah hal itu.

Definisi pahlawan yang dirumuskan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Time, 10 Oktober 2005, hal 58 , adalah “Heroes are selfless peoples who perform extraordinary acts. The mark of heroes is not necessarily the result of their action, but what they are willing to do for other and for their chosen cause. Even if they fail, their determination lives on for others to follow. Their glory lies not in the achievement, but in the sacrifice.” Pahlawan adalah orang (biasa) yang tidak egois dan berbuat sesuatu yang luar biasa. Penghormatan kepada pahlawan tidak harus selalu dilihat hasilnya. Bahkan jika gagal sekalipun, kemauan kerasnya untuk berbuat sesuatu untuk orang lain akan terus dikenang. Jadi, kebesaran seorang pahlawan tidak diukur dari hasil yang dicapai, melainkan kesediaannya berkorban untuk sesamanya. Pengertian pahlawan menurut Presiden SBY tadi mengandung tiga unsur utama. Satu, orang yang tidak egois, selalu memikirkan kepentingan atau keperluan orang lain. Dua, tindakan atau perbuatan (pengorbanan) untuk orang lain. Tiga, penghormatan sebagai imbalan atas pengorbanannya. (http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/10/opi3.htm).

Satu pribadi yang akan kuangkat kal ini adalah Opungku, Opung Parulian Sinaga doli. Beliau bernama lengkap St. SAUL. G. SINAGA, lahir di Samosir 01-07-1915 dan meninggal di Tarutung 27-10-2008. Mengapa? Karena 3 hal yang diangkat oleh SBY dalam kutipan di atas dapat diberlakukan kepadanya.

  1. Opung St. SAUL. G. SINAGA bukan orang yang egois dan memikirkan kepentingan orang lain dengan turut mempelopori pembangunan Gereja Katholik di Simanindo, menjadi pengajar agama Katholik dan pelayan bagi kerohanian masyarakat sejak tahun 1967. Ia juga memprakarsai terbentuknya Koperasi CREDIT UNION MARSIURUPAN di tahun 1974 dan koperasi ini masih hidup hingga sekarang ini dengan jumlah anggota lebih dari 1000 orang.
  2. Tindakan dan pengorbanannya nyata untuk kepentingan orang lain.
  3. Diakhir masa hidupnya, ia menerima penghormatan terakhir sebelum dimakamkan dari Gereja Katholik Simanindo, dari Masyarakat Simanindo, dari keluarga Adat dan dari semua pinoppar/keturunan yang tinggal di Sumatera dan Jawa.

Allahku terlalu ajaib menjadi Opungku sebagai saluran berkatNya.

 

Pikirku, beliau pasti tidak menginginkan penghormatan yang sedemikian kepadanya. Beliau melakukannya dengan tulus dan ikhlas, tanpa pamrih sebagai baktinya selaku anak bangsa dan pelayan Tuhan.

Selain menjadi berkat bagi masyarakat, beliau juga menjadi berkat bagi kami keturunannya. Semoga Tuhan menolong kami meneladani Opung kami yang telah dipanggilnya kembali dengan sukacita ke Sorga yang kekal dan mulia.

 

 

Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, Efesus 1:18