yesus1Ternyata disekitar kita adanya terlalu banyak orang yang putus asa dengan hidupnya!. Simak saja hal-hal yang tersaji di mass-mess media dan info-infotainmen; yang kita baca, lihat dan dengar adalah informasi “rasa putus asa”. Hingga ujug-ujug (tiba-tiba tanpa berpikir sewajarnya) mereka bilang bahwa “hidupnya adalah sia-sia”.

Apa benar bahwa hidup ini adalah sia-sia?

Jika kita setuju dan memilih menjadi bagian dari kelompok “hidup adalah sia-sia”, betapa malangnya hidup didalam kehidupan yang masih dijalani hingga saat ini. Bangun pagi-pagi, pergi bekerja/beraktifitas, kembali ke rumah, tidur, bangun pagi-pagi, pergi bekerja/beraktifitas, kembali ke rumah, tidur, dan demikian seterusnya untuk sesuatu yang tidak berguna dan tidak bernilai, seumpama robot yang terprogram untuk demikian dan tidak dapat memilih sendiri “program” bagi dirinya; seumpama roda atau baling-baling atau gangsing yang berputar pada porosnya – hanya bisa berputar, berputar dan berputar sesuka pengendalinya; hidup menjadi statis dan kaku sekali. Semoga jauhlah dari kita untuk setuju dan memilih menjadi bagian dari kelompok ini.

Jika kita tidak setuju dan tidak memilih untuk menjadi bagian dari kelompok “hidup adalah sia-sia”, betapa berbahagianyalah hidup didalam kehidupan yang masih dijalani hingga saat ini. Kita dapat bangun pagi-pagi, pergi bekerja/beraktifitas, kembali ke rumah, tidur, bangun pagi-pagi, pergi bekerja/beraktifitas, kembali ke rumah, tidur, dan demikian seterusnya untuk sesuatu yang berguna dan bernilai. Karena kita bukan robot yang terprogram dan bukan roda atau baling-baling atau gangsing yang sekedar berputar pada porosnya. Kita dapat mengeksplorasi segala daya-cipta-karsa yang dianugerahkan Tuhan dengan optimal. Bersyukurlah karena Tuhan memberikan kesadaran dan kemampuan kepada kita untuk tetap optimis dan berkarya dalam hidup ini.

 

Dengan menggunakan search-engine Program Alkitab V2.6 didapatkan 30 kali kata “sia-sia” dituliskan pada kitab Pengkhotbah (di dalam ciri khas disebutkan 37 kali). Dan karena begitu banyaknya kata “sia-sia” di dalam kitab, sangat disayangkan sekali ada pengajar-pengajar jemaat yang mengutip-kutip kata ini dengan pengajaran dan penjelasan yang tidak benar dengan keterlaluan. Mereka membangun pengajaran berdasarkan pemahaman pribadi atas tulisan yang terbaca, tidak memahami lebih dalam lagi mengapa pengkhotbah mengulang-ulangnya sehingga “seolah-olah” pengkhotbahpun setuju bahwa hidup adalah sia-sia. Tidak benar sama sekali.

Oleh karena itu, saya mengutip keterangan-keterangan yang melatar belakangi penulis kitab Pengkhotbah, dengan harapan kita semua memiliki pemahaman dan pengertian yang benar, yang kemudian kita dapat menolong dan bagikannya kepada orang-orang sekitar kita yang sedang dalam “hidup sia-sia”.

 

Salomo menulis kitab Pengkhotbah pada tahun-tahun akhir hidupnya. Pengaruh yang bertumpuk dari kemerosotan rohani, penyembahan berhala, dan hidup memuaskan-dirinya pada akhirnya membuat Salomo kecewa dengan kesenangan dan materialisme sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan. Kitab Pengkhotbah mencatat renungan-renungan sinisnya tentang kesia-siaan dan kehampaan usaha menemukan kebahagiaan hidup terlepas dari Allah dan Firman-Nya. Ia telah mengalami kekayaan, kuasa, kehormatan, ketenaran, dan kesenangan sensual — semua secara melimpah — namun semua itu akhirnya merupakan kehampaan dan kekecewaannya saja, “Kesia-siaan belaka! Kesia-siaan belaka! … segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkh 1:2).

Tujuan utamanya dalam menulis Pengkhotbah mungkin adalah menyampaikan semua penyesalan dan kesaksiannya kepada orang lain sebelum ia wafat, khususnya kepada kaum muda, supaya mereka tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya. Ia membuktikan untuk selama-lamanya kesia-siaan melandaskan nilai-nilai kehidupan seorang pada harta benda duniawi dan ambisi pribadi. Sekalipun orang muda harus menikmati masa muda mereka (Pengkh 11:9-10), adalah lebih penting untuk mengabdikan diri kepada Sang Pencipta (Pengkh 12:1) dan membulatkan tekad untuk takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya (Pengkh 12:13-14); itulah satu-satunya jalan untuk menemukan makna hidup ini.

Salomo hanya dapat menemui makna pokok hidup ini ketika memandang “di atas matahari” kepada Allah. Kitab ini menyatakan bahwa hidup yang terpisah dari Allah itu tidak menentu dan penuh dengan kesia-siaan (istilah “sia-sia” terdapat 37 kali dalam kitab ini). Dengan sinis Salomo mengamati pelbagai paradoks dan kebingungan dalam hidup ini     (lih. mis. Pengkh 2:23 dan Pengkh 2:24; Pengkh 8:12 dan     Pengkh 8:13; Pengkh 7:3 dan Pengkh 8:15). Maka “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkh 12:13-14).

Tema kitab ini, yaitu hidup tanpa Allah adalah sia-sia dan tanpa arti, mempersiapkan panggung untuk berita kasih karunia PB: sukacita, keselamatan, dan hidup kekal hanya diterima sebagai karunia dari Allah (bd. Yoh 10:10; Rom 6:23).

Dengan berbagai cara, kitab ini mempersiapkan jalan untuk penyataan PB dengan cara terbalik. Acuan yang sering kepada kesia-siaan hidup dan kepastian kematian mempersiapkan pembacanya untuk jawaban Allah terhadap kematian dan penghukuman yaitu, hidup kekal melalui Yesus Kristus.  Karena orang PL yang paling bijaksana tidak sanggup menemukan jawaban yang memuaskan bagi aneka persoalan hidup melalui pencarian kesenangan yang mementingkan diri, kekayaan, dan pengumpulan pengetahuan, kita harus mencari jawaban tersebut di dalam Dia yang oleh PB disebut “lebih daripada Salomo” (Mat 12:42), yaitu Yesus Kristus sebab di dalam-Nya “tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol 2:3).

 

Hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada kita BUKANlah hidup yang sia-sia, melainkan hidup yang teramat bermakna; bagi Tuhan, masyarakat dan diri pribadi. Hidup akan menjadi sia-sia hanya jika jauh dari Tuhan. Maka mari mengisi hidup ini dengan menyerahkan diri secara total pada Kristus, Juru Selamat dunia.

 

 

namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

 Galatia 2:20