pakeatasDipenghujung pemerintahan raja Yosafat, Yehuda dan penduduk Yerusalem diperhadapkan pada kondisi yang menakutkan raja (ay.20), tidak mempunyai  kekuatan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan (ay.12) oleh karena bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir… “suatu laskar yang besar” hendak menyerang kerajaan.

Yosafat mengambil keputusan untuk mencari TUHAN dan Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa meminta pertolongan Tuhan, sambil berseru (ay.6-7) “Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau. Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya?

Yosafat dan seluruh Yehuda berkomitmen “tetapi mata kami tertuju kepada-Mu.” (ay. 12), berdiri di hadapan TUHAN, juga segenap keluarga dengan isteri dan anak-anak mereka. Allah meresponi iman mereka, dan melalui Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, yang dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, dan berseru: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel. Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.” (ay 14-17).

Yosafat, seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalempun taat kepada TUHAN dan menyembah kepada-Nya. Kemudian orang Lewi dari bani Kehat dan bani Korah bangkit berdiri untuk menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, Allah Israel, dengan suara yang sangat nyaring. Dan apa yang terjadi keesokan harinya yaitu mereka tetap percaya teguh kepada TUHAN dan menyanyikan pujian syukur kepada TUHAN, ….. dan Tuhan bertindak sebagai pembela dan melindungi umatNya; dimana bani Amon, Moab dan penduduk pegunungan Seir, mereka saling bunuh-membunuh. Amanlah kerajaan Yehuda dan penduduk Yerusalem.

 

Mungkin  sebagian dari kitapun pernah mengalami dalam kondisi yang menakutkan dan merasa tidak berdaya; seperti kesulitan materi, sakit-penyakit yang tidak kunjung sembuh, ketakutan akan terorisme, maraknya penculikan, makanan-minuman-obat beracun dan kejahatan-kejahatan lainnya membuat tidak sedikit orang membuat keputusan yang salah. Keputusan salah yang tidak menyelesaikan segala permasalahan yang sedang dihadapi. Keputusan yang salah itu seperti kecemasan/ketakutan berlebihan (paranoid) pada diri dan lingkungan, meminta bantuan “orang pintar”, melarikan diri kepada dosa dan tindakan-tindakan yang merusak tubuh (racun nikotin, obat-obat psikotropika, dosa seksual dll)

Yosafat juga mengalami takut dan merasa tidak berdaya, namun ia membuat keputusan yang benar, yaitu dengan hanya datang kepada Tuhan, menyerukannya imannya kepada segenap masyarakat – merekapun sepakat dan ia mengalami pertolongan Tuhan dengan ajaib.

Semua kita juga dapat mengalami perlindungan dan pemeliharaan Tuhan seperti yang Yosafat alami. Maka mari kitapun membuat keputusan yang benar. Hasil dari keputusan yang benar hanya dapat terjadi jika mata kita tetap tertuju kepada Tuhan dan taat – percaya dengan teguh.

IA sungguh-sungguh Allah yang hidup dan memerintah Sorga, segala bangsa dan ciptaan. Segala sesuatu takluk dan tunduk kepadaNya. Akupun mau tunduk dan mempercayakan didupku mutlak ditanganNya yang penuh kuasa.

 

Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat. Sungguh TUHAN telah menyediakan perjamuan korban dan telah menguduskan para undangan-Nya. Zefanya 1:7.