appleJika ada survey mengenai aktifitas menonton film atau sinetron, saya termasuk termasuk di dalamnya. Namun beberapa waktu lalu diantara waktu ganti-ganti saluran televisi, ada kejadian yang menceritakan dua orang muda dewasa yang berteman, tidak bertunangan, apalagi sebagai suami istri, berada dalam satu kamar. Kemudian si pria ‘mengajak’ si wanita. Coba tebak… bagaimana dan apa tanggapan dari si wanita? Si wanita hanya ‘menghindar seadanya’ dan berkata “bagaimana jika saya hamil ?”. Cerita selanjutnya tidak kuikuti karena mencari siaran yang menyajikan berita-berita yang sedang terjadi.

Tanggapan aku : Ya ampun !!! Aku kaget menyimak adegan dan dialog mereka. Dengan ringannya si pria ‘mengajak’ dan si wanita hanya menanyakan bagaimana jika ia hamil. Sedemikian mudahnyakah? Jawabku.. ternyata, setuju atau tidak adalah YA. Setidaknya kejadian dalam sinetron tersebut sudah atau sedang terjadi disekitar kita (mungkin) dan dapat mewakili kejadian sesungguhnya yang sedang terjadi di masyarakat luas.

Bersetubuh sebelum menikah nampaknya menjadi sesuatu yang ‘cukup dapat ditoleransikan’ oleh sebagian besar masyarakat dewasa ini. Dimana tidak sedikit diberitakan kelompok umur dewasa hingga remaja yang tak malu-malu lagi melakukan hubungan badan walaupun belum/tidak terikat pernikahan. Padahal ada amat banyak konsekuensi yang menanti ketika melakukan bersetubuh sebelum menikah. Baik itu konsekuensi dari sisi hukum, moril, kesehatan, masa depan dan tanggapan masyarakat.

Lalu siapakah yang dapat dipersalahkan? Ada yang bilang orang yang bersangkutan, didikan dan perhatian orang tua yang kurang, situasi – kondisi lingkungan yang tidak sehat, mass media dan penyiaran televisi/film yang memberitakan/menampilkan hal tersebut. Malahan ada juga yang menyalahkan peranan para guru, para pemimpin agama dan pemerintah yang tidak sungguh-sungguh mendidik, mengajarkan dan mengawasi dengan baik. Waduh… semua pihak jadi bersalah.

Menurutku yang paling bersalah adalah Orang Yang Bersangkutan, karena ia tidak dapat menguasai keinginan di dalam dirinya dengan baik. Bukankan setiap orang diberikan kemampuan yang cukup untuk menguasai segala sesuatu di dalam dirinya. Namun yang terjadi adalah dirinya dikuasai oleh keinginannya.

Di dalam diri seseorang saya percaya ada banyak keinginan-keinginan, ada keinginan yang baik dan mendewasakan dirinya serta adapula keinginan yang tidak baik/salah yang malahan merusak dirinya, dan salah satunya adalah bersetubuh sebelum menikah. Tidak hanya bagi wanita, bagi si priapun demikian. Secara umum pandangan masyarakat menyatakan konsekuensi yang diterima wanita ‘lebih berbentuk’ di bandingkan bagi pria. Namun tanpa disadari atau lebih mendalam lagi, kedua pihak telah merusak dirinya secara moral dan psikologis.

Hal-hal lain seperti didikan dan perhatian orang tua yang kurang, situasi – kondisi lingkungan yang tidak sehat, mass media dan penyiaran televisi/film yang memberitakan/menampilkan hal tersebut, peranan para guru, para pemimpin agama dan pemerintah yang tidak sungguh-sungguh mendidik, mengajarkan dan mengawasi dengan baik.. sedikit banyak berperan semakin maraknya kejadian bersetubuh sebelum menikah. Namun yang paling bersalah adalah Orang Yang Bersangkutan, yang tidak bias menguasai keinginan tersebut.

Didepan hukum, hal tersebut salah. Didepan aturan masyarakat, hal tersebut tidak dibenarkan. Secara Agama, hal tersebut adalah dosa. Maka “salah, tidak dibenarkan dan dosa” adalah predikat nilai yang cukup tepat bagi tindakan demikian.

 

Kemudian yang menjadi perhatian kita adalah kuasailah diri sedemikian rupa agar tidak melakukan hal diatas. Tetap berhati-hatilah dalam bergaul. Setialah dengan calon pasangan sampai waktu pernikahan. Setialah pada suami/istri yang dianugerahkan Tuhan.

 

 

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Mazmur 119:9

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. I Petrus 5:8.