Ada kalanya kita berlaku seperti murid-murid dengan berkata “Tuhan, Engkau tidak peduli terhadap apa yang terjadi padaku” sebagai kalimat lain dari “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

onhandYuk sedikit kita renungkan… apakah pernah Allah tidak perduli dengan kita? Kapan, dimana dan bagaimana ???

Berikut satu kesaksianku: Saya pernah 2 kali berkesempatan tidak bekerja untuk jangka waktu masing-masing 10 bulan. Saya juga pernah mengalami kekecewaan yang terlalu berat menurutku, hampir-hampir saya putus asa dan putus harapan. Namun ternyata Tuhan tidak meninggalkanku seorang diri. Kupikir dan kurasakan berada dalam lorong panjang yang gelap, seorang diri dan tanpa ada yang menemani. Saya ingat sekali keadaan masa itu, bagaimana berhadapan dengan teman-teman dan pribadi-pribadi yang kulayani sedangkan kondisiku saat itu sedang tidak bekerja dan mengalami keputusasaan yang kronis.

Apa yang kupikir dan kurasakan berada dalam lorong panjang yang gelap, seorang diri dan tanpa ada yang menemani, merupakan sesuatu yang SALAH SAMA SEKALI. Ternyata Tuhan memperdulikan aku dengan segala hal yang sedang terjadi di dalam hidupku. Ia memulihkan hidupku dengan mempercayakanku kembali dapat bekerja hingga kini, keputus-asaan dan putus harapankupun dibaharuiNya dengan sukacita yang tidak terkira. Ia memulihkan dan memperbaharuiku melalui pengalaman tersebut. Memang tidak mudah namun hasil akhirnya bersama denganNya itu pasti, tidak mudah-mudahan atau semoga, pasti.

Kalau kepada saya Ia perduli, kepada saudara Ia-pun perduli – apapun pergumulan kita.

 

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Ayub 42:2