bks043067_lBanyak orang sangat suka sekali disanjung, baik itu karena kecakapannya, keberhasilannya, kemampuannya dan banyak hal lain dalam diri yang dapat dibanggakan. Namun tidak banyak orang suka/”rela hati” untuk dievaluasi kehidupannya. Dalam bagian ini kita akan bersama bercermin/dievaluasi melalui kehidupan seorang perwira di Kapernaum, yaitu:

 

1.       Ia memiliki kasih dan perhatian yang besar kepada orang lain.

Ia adalah seorang perwira, mungkin dapat disamakan dengan seorang DANDIM (Komandan Kodim) atau seorang KAPOLRES (Kepala Kepolisian Resort) atau sejawatnya, -dimana ia memiliki kasih dan perhatian yang besar kepada hambanya. Disini dituliskan kepada “hambanya” dan bukan kepada relasi bisnisnya atau rekan sejawatnya atau sahabat/kawan dekatnya; ditambahkan dengan keterangan yang disampaikannya “terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita”.

Jika seorang perwira dapat memiliki kasih dan perhatian yang besar kepada hambanya, mari kita juga memiliki sikap yang sedemikian. Jangan menjadikan posisi sebagai Manajer, seorang yang pendidikan tinggi, sebagai orang yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan orang lain – menjadi penghalang untuk mengasihi dan memperhatikan orang lain, termasuk kepada orang-orang yang tidak “diperhitungkan”.

 

2.   Ia memiliki kerendahan hati yang tulus.

Dalam ay.8, ia memberikan pernyataan yang “luar biasa” bagiku. Ia seorang perwira, seorang perwakilan pemerintahan Romawi untuk wilayah itu mengatakan “aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku”. Jabatannya yang tinggi tidak menjadi penghalang baginya untuk merendahkan diri dihadapan Yesus; bagi orang-orang yang hadir saat itu disebut sebagai Guru yang Agung, sebagai orang yang dapat melakukan mujizat penyembuhan dan mengusir setan dan  sebagai raja yang dinubuatkan. Sedangkan bagi beberapa orang dan pemimpin agama Yahudi sendiri, yang mendengar bagaimana Yesus mengajar dan melakukan mujizat – ia dianggap sebagai orang biasa yang mengacau dan menggangu ketenangan masyarakat.

Jika perwira ini yang mengenal siapakah Yesus (mungkin) dari kata orang dapat merendahkan diri sedemikian rupa, demikianlah hendaknya kita juga – sebagai orang-orang yang sudah diajarkan dan mengalami kehidupan bersama Yesus, mari kita juga memiliki kerendahan hati untuk senantiasa datang kepadaNya dengan kerendahan hati.

 

3.       Ia memiliki iman yang nyata.

“katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh”, menjadi puncak pengenalan pribadi perwira ini terhadap Yesus, ia begitu yakin (atau kata rohaninya :beriman) bahwa pribadi yang ia jumpai untuk memohon kesembuhan bagi hambanya adalah bukan orang sembarangan. Hingga Yesus berkata “sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel” merupakan penilaian yang tinggi bagi kepercayaan perwira ini, yang memiliki iman yang nyata dan bukan setengah hati.

Jika perwira ini dapat memiliki iman yang nyata kepada Yesus, demikianlah hendaknya kita juga – sebagai orang-orang yang sudah diajarkan dan mengalami kehidupan bersama Yesus, mari kita juga memiliki iman yang nyata dan terus dewasa di dalam pengenalan akan Dia.

 

Kita bersyukur bahwa Allah menciptakan kita untuk maksudnya yang mulia yaitu agar kita menjadi berkat bagi lingkungan dimana kita berada; di rumah/keluarga, di kantor, di organisasi, atau dimanapun Ia percayakan kita hadir di sana. Namun sering kali kita gagal untuk menjadi berkat dengan tidak memiliki kasih dan perhatian yang besar kepada orang lain, tidak memiliki kerendahan hati yang tulus dan tidak memiliki iman yang nyata.

Semoga perikop ini dapat mengevaluasi kegagalan-kegagalan kita dan berkomitmen kembali untuk lebih setia mempertanggungjawabkan rencana Tuhan yang mulia yaitu menjadi berkat dan bukan penghalang berkat Tuhan kepada orang-orang disekitar kita dan dimanapun Tuhan percayakan kita ada saat ini

 

 

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12:2