Mass-mass media banyak kali menyampaikan hal-hal yang tidak memberikan kejelasan dan bahkan menambahkan kebingungan bagi pemirsanya. Seperti :

1)      Pemberitaan mengenai kegiatan koalisi antar partai, dimana partai A berkunjung/sowan ke partai B; partai C dan partai D membentuk poros/kekuatan baru, yang mana tujuannya hanya untuk meng-gol-kan pasangan Capres-Cawapres tertentu.

2)      Pemberitaan mengenai perekonomian yang tidak memberikan semangat, seperti terjadinya PHK di beberapa perusahaan dengan alasan dampak “krisis global”, kenaikan harga-harga, hingga kesenjangan kaya-miskin yang semakin menyolok.

3)      Pemberitaan masalah hukum yang melibatkan beberapa aparat hukum, yang seharusnya memberikan keteladanan penerapan hukum yang benar di bangsa ini.

4)      Pemberitaan mengenai kebebasan beragama yang tidak berjalan sesuai UUD, dimana UUD menjamin dan memberikan kebebasan bagi warganya untuk melaksanakan ibadahnya menurut agama yang dianutnya.

5)      Dan pemberitaan-pemberitaan lainnya yang tidak menambahkan semangat baru untuk menyongsong hasi esok yang lebih baik.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah seharusnya Orang Percaya menyikapi hal-hal di atas? Apakah ikut arus menjadi orang yang pesimis atau menjadi orang yang senantiasa optimis?

 

Dalam peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesirpun, sesungguhnya bangsa Israel memiliki banyak sekali kekuatiran yang begitu menguasai mereka dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut?

1)      Bagaimana dengan kelangsungan hidup mereka; sehubungan dengan jaminan ketersediaan makanan, minuman dan keselamatan mereka sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian.

2)      Bagaimana dengan tempat tinggal, harta benda serta ternak yang mereka bawa dari Mesir?

3)      Serta pertanyaan yang berisikan kekuatiran mereka mengenai masa depan mereka sepeninggal dari Mesir.

 

FirmanNya dalam Ulangan 31:8 dituliskan demikian : “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”

 

Melalui ayat ini ada 3 janji Tuhan kepada orang Israel di masa lalu dan kita orang percaya di masa sekarang, yaitu bahwa:

  1. Kita tidak sendiri karena “TUHAN sendiri akan berjalan di depanmu”, artinya Ia sendiri yang akan memimpin. PimpinanNya memberikan semangat baru bahwa tujuan dan masa depan kita adalah PASTI (bukan mudah-mudahan).
  2. “TUHAN sendiri akan menyertai engkau”, Ia adalah Imanuel : Tuhan beserta kita, apapun yang terjadi di dalam hidup kita kini dan yang akan dating.. Ia senantiasa menyertai kita.  
  3. “TUHAN tidak akan membiarkan dan tidak akan meninggalkan orang percaya”. Bukankah ini janji yang memberikan kepastian bahwa Ia akan menjaga dan memelihara umatNya. Jika Allah berjanji… maka pasti Ia tidak akan lalai akan janjiNya.

 

Kemudian bagaimana caranya agar kita memahami dan berjalan dalam janji Tuhan di atas?

Tuhan sudah menyediakan sarana yang tepat  yaitu melalui firmanNya, sebagai pelita dan terang bagi jalan kita (Mazmur 119:105).

 

Jika bangsa Israel setelah berjalan di dalam janjiNya dapat mencapai/meraih Tanah Perjanjian dan menikmati berkat-berkat Tuhan di sana, maka bagi kitapun banyak hal di depan kita adalah mungkin bersama janji-janjiNya. Meskipun situasi dan kondisi yang disampaikan oleh mass-mass media semakin membingungkan dan mengkuatirkan, bersama janjiNya dan berjalan seturut firmanNya segala sesuatunya akan diubahkanNya menjadi kepastian dan damai sejahtera. Tuhan dipermuliakan.