cat

Kamis malam sepulang ngantor, aku terburu-buru mencuci tangan, kaki dan muka untuk kemudian berangkat kebaktian. Sayup-sayup kudengar kucing meng’eong’ di atas plafon ruang belakang rumah kami. Menurut pengasuh anak-anak kucing tersebut sudah sejak siang di atas plafond an sepertinya tidak menemukan jalan untuk keluar dari sana. “Waduh… sudah hampir terlambat nih, gak sempat menolongnya”.

Hari jumatnya, sepulang kerja kutanyakan kembali kepada pengasuh “apakah masih ada kucing di atas plafon”, jawabnya “ada, tapi suaranya lebih kecil”. Karena hari sudah malam, gak mungkin juga naik ke atas plafon… kuringankan kakiku untuk tidur. Zzz…zz.

Sabtu pagi kudengar suara lirih kucing di atas plafon, gelisah juga hatiku.. kucari meja dan kursi yang menolongku untuk naik ke atas plafon. Kataku “puss…” “meoong..” jawabnya. “Dimana? Kesini dong… puss..” sekali lagi ia hanya menjawab “meoong..” dengan lirih. Begitu berulang kali. Kulihat-lihat di sudut plafon yang panas… namun tidak terlihat, sedangkan suaranya masih lirih terdengar. Kupanggil dan kucari lagi namun tetap tidak terlihat, kuputuskan untuk turun dari plafon dan berencana mencari di atap belakang rumah.. semoga dia ada di sana.

Kupinjam tangga dari tetangga dan kupasangkan di dinding belakang rumah untuk membantuku naik ke atas atap belakang rumah. “Puuss..” kataku… “meoong..” jawabnya. A..ha, di sini dia rupanya. Ia bersembunyi sambil berlindung dari panasnya sinar matahari di bawah atap rumah di dalam lubang dak penampung air. Kucoba untuk menolongnya.. namun sepertinya ia tidak percaya dengan berusaha menunjukkan gigi dan cakarnya. Segera kuraih lehernya dan menolongnya keluar dari lobang persembunyiannya. Akhirnya … selesai tugasku untuk menyelamatkan kucing itu dari kondisi yang lebih buruk lagi.

tangan tuhanMelalui hal ini aku mencoba melihat hal-hal apa yang dapat saya pelajari.. dan kudapatkan bahwa:

  1. Dalam kesendirian, kondisi mencekam atau saat memerlukan pertolongan Tuhan, aku terlalu banyak berteriak bahkan semakin kuat suaraku… sampai-sampai suara Tuhan tidak kudengar.
  2. Suatu kali kudengar suaraNya yang akan menolongku… aku hanya menjawab sesukaku, asal kujawab saja namun tidak mau keluar dari persembunyianku.
  3. Ketika Tuhan mendapatkanku di tempat persembunyianku dan hendak menolongku.. seolah-olah hendak kutepis pertolongannya dengan memperlihatkan taring dan cakarku.
  4. Namun Ia terlalu ajaib, meski demikian Ia sigap menolongku dengan caraNya… dan selamatlah aku dari kondisi sendirian, mencekam dan memerlukan pertolongan.

 

 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Mazmur 121:2

Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. Ratapan 3:26