Dalam perjalanan terakhir Spirit Journey Komisi Kaum Muda GKAI Ciputat, 9/9 petang kami singgah dan beribadah bersama anak-anak di Panti Asuhan “Batu Penjuru” Wates DIY. Di sana kami disambut hangat Pdt. Martinus dan adik-adik panti dengan sukacita. Secara fisik kami tentu sangat lelah setelah sejak Rabu 5/9 malam berangkat dengan KA menuju DIY dan Solo. Namun kami sepakat melengkapi perjalanan rohani kami dengan pelayanan terakhir dip anti tersebut. Saya pribadi bersyukur menikmati pemeliharan Tuhan Yesus sungguh ajaib kepada anak-anakNya yang dibina dipanti tersebut.

Setelah beristirahat sejenak dan berkenalan, kami memulai ibadah sore itu. Puji-pujian yang bersemangat dan bersukacita mengalun sebagai syukur kami kepada Tuhan Yesus yang mengasihi kami yang hadir. Diisi pula dengan interaksi dalam kelompok dan kesaksian pujian dari adik-adik Batu Penjuru.

Renungan firman Tuhan terambil dari Daniel 1. Disana kami dibukakan.. kota Yerusalem dikalahkan tentara Babel. Segala sesuatu yang baik dirampas dan dibawa ke Babel. Mungkin sekali ada orang tua yang kehilangan anaknya dan anak-anak yang kehilangan orang tuanya karena perang tersebut. Ada banyak orang yang menjadi sangat susah baik materi dan juga sakit fisik mereka. Ada anak-anak yang menjadi yatim, ada yang menjadi piatu dan ada juga yang menjadi yatim piatu. Dalam perikop itu, ayat 4 tertulis ada 4 orang muda Israel yang dibawa ke Babel untuk dididik dan bekerja di istana raja Babel.

Mereka “diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim” berarti dididik dengan cara dan budaya yang berbeda dengan cara/budaya Israel. Mereka diharuskan untuk makan ”dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya” (biasanya sudah dipersembahkan dahulu kepada ilah/dewa Babel) berarti secara rohani mereka dipaksa untuk dicemarkan/dinajiskan kehidupannya.

Sebagai orang muda tentu mereka mempunyai cita-cita yang terbaik untuk masa depan mereka, namun kenyataannya adalah mereka ditangkap dan dibawa ke negeri asing yang dididik dalam budaya yang tidak mengenal Allah Israel. Bisa saja cita-cita mereka ‘menguap’ dan mereka menjadi orang-orang yang putus asa juga putus pengharapan. Namun orang muda ini tetap percaya pemeliharaan Tuhan akan memberkati mesti seolah-olah tidak ada harapan.

 

Apa yang dilakukan oleh orang muda ini dan menjadi kunci keberhasilan mereka yaitu:

1. Tidak kompromi/main-main dengan dosa, yaitu dengan “berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja”; (8)

2. Menjaga pola hidup dan makanan sehat,- makan sayur dan tidak minum anggur (12)

3. Rajin belajar dan pantang menyerah. (17-18)

 

Allah memberkati ke-empat orang muda ini dengan ”memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. (17), sehingga di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; (19) dan “Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya. (20).

Luar biasa pemeliharan dan berkat Tuhan kepada orang percaya yang tidak kompromi dengan dosa, menjaga pola hidup sehat dan pantang menyerah.

Kiranya firman ini memberkati kita semua. http://www.sabda.org/alkitab/tb/?versi=tb&kitab=27

Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut. Amsal 14:27