Berpegang Teguh Kepada KEBENARAN

Satu minggu belakangan ini, proses demokrasi di Indonesia kembali diuji dengan dilaksanakannya persidangan paripurna di DPR untuk mengubah UU Pilkada langsung oleh masyarakat menjadi hasil pilihan wakil rakyat yang duduk di DPRD dan DPR. Dalam hal ini kita melihat, Pilkada Langsung menjadi suatu ‘kebenaran’ proses demokrasi yang sudah berlangsung 2 periode pemerintahan.. namun hendak digantikan dengan ‘kebenaran’ baru yaitu bahwa pimpinan daerah seharusnya merupakan produk politik di dewan.

‘Kebenaran’ menjadi relatif dan dapat digantikan dengan ‘kebenaran’ lain yang sesuai dengan kebutuhan atau dorongan sekelompok orang/lembaga.

Sewaktu belajar Filsafat Ilmu disana didapatkan bahwa kebenaran itu ada beberapa hal, yaitu:

a). Kebenaran Indera, Yaitu Apa yg dilihat, didengar,dibaui, dikecap dan dirasakan… itulah kebenaran.

b). Kebenaran Rasio/Pengetahuan, Yaitu diperoleh oleh indera haruslah juga dapat diuji dengan Rasio/Pengetahuan keilmuan yang berlaku… barulah dapat disebut kebenaran.

c). Kebenaran Filosophi, Yaitu tidak hanya berdasarkan Indera dan rasio/Pengetahuan saja.. namun kebenaran itu harus dapat dipercaya/diterima oleh sekelompok orang dan dapat diuraikan dengan dengan logika umum.

d). Kebenaran Ilahi, Yaitu kebenaran tertinggi yang berasal dari Pencipta dan pasti benar.. tidak dapat digugat karena tidak mungkin salah.

Kepada jemaat di Efesus (Efesus 1:13; 4:21) Paulus menegaskaN bahwa kebenaran adalah di dalam INJIL dan YESUS. Pendapatku… inilah kebenaran tertinggi. Dan ini tidak bertentangan dengan Filsafat Ilmu yang dipelajari dilingkungan akademisi.

Dalam kesempatan ini kita akan menggali pendapat Rasul Paulus dam suratnya kepada jemaat di kota Roma, bagaimana ia mendorong jemaat untuk berpegang teguh kepada kebenaran. (Roma 1:16-17; Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”)

Ayat 18-32 diuraikan kondisi dunia yang semakin sarat dengan dosa. Dimana hubungan vertikal dengan Tuhan menjadi rusak (18-25) dan hubungan horizontal dengan sesamapun menjadi rusak (26-32). Ini tantangan serius jaman akhir.. agar orang percaya terlindung dan bahkan dapat menjadi berkat bagi sesama maka perlu:

  1. Tersungkur di bawah kaki Yesus; pengakuan bahwa Yesuslah JuruSelamat dan terutama di dalam setiap pribadi. Hanya kepadaNya setiap jiwa tersungkur dan berpasrah diri dalam seluruh aspek kehidupannya.
  2. Kembali kepada Alkitab; sebagai Kebenaran hakiki yang tertulis dan dapat dibaca maka Alkitab menjadi suluh dalam kegelapan dan arah yang memandu dengan pasti kehidupan yang harus dijalani.
  3. Beriman setia, Paulus menjadikan dirinya keteladanan ‘orang benar akan hidup oleh iman’. Bahkan ia beriman setia sampai akhir hidupnya.

Tetaplah Berpegang Teguh Kepada KEBENARAN; Injilnya dan Yesus.