Kasih Kristus adalah Rumah Yang Utuh Dalam Keluarga Yang Melayani

“Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.” (1 Tawarikh 17:27)
Kebutuhan Keluarga Saat Ini

Memperhatikan penting dan strategisnya peranan keluarga di masa kini, ada Empat hal yang harus terus bertumbuh dalam kehidupan sebuah keluarga, yaitu:

  1. Peran suami sebagai kepala rumah tangga harus dilaksanakan; hal ini merupakan ketetapan Allah bagi setiap keluarga di dunia. Supaya keluarga bertumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan, maka istri harus memberi kesempatan dan dukungan. Inilah perannya sebagai penolong yang sepadan bagi suaminya. Suami yang takut akan Tuhan dan menjadi pimpinan yang melayani di dalam keluarganya dinyatakan berbahagia; dimana berkat Tuhan nyata dalam kehidupan istri, anak-anak dan pekerjaannya.  Inilah yang dilakukan oleh Yosua terhadap keluarganya. Ia mendemonstrasikan peran ini ketika berkata “… Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15b).

Dua hal yang paling menonjol peran suami dalam Alkitab, yaitu: 1) Peranan suami sebagai kepala rumah tangga. (Efesus 5:22-29). Sebagai kepala rumah tangga suami adalah pemimpin keluarga dan pengambil keputusan; pengayom bagi semua anggota keluarga; pelindung yang melindungi dan bertanggung jawab; mendidik, menegor dan menasihati. (Efesus 6:4); memberi contoh dan teladan yang baik bagi keluarga. 2) Peranan suami sebagai imam. Sebagai imam Ia harus memimpin dan mengatur ibadah dalam keluarga; Berdoa setiap waktu kepada Allah bagi seluruh anggota keluarganya dan juga bagi dirinya sendiri.

  1. Mendesaknya keteladanan orang tua dihadapan anak-anak; dalam perkataan, sikap, penampilan dan perbuatan (Baca: Efesus 6:4; Kolose 3:20-21). Ahli psikologi dan pendidikan menyatakan bahwa anak kecil belajar dengan melihat, mendengar, merasakan dan meniru. Selanjutnya  mereka mengolah dalam pikirannya apa yang didengar dan dilihat, seiring dengan perkembangan kognitifnya. Jika anak mendapatkan contoh sikap dan perilaku yang buruk, ia memandang itu sebagai yang “benar” untuk diteladani. Yesus sendiri memang telah mengingatkan para orang tua supaya menjaga anggota tubuhnya sedemikian rupa agar tidak membawa anak-anak mereka bertumbuh dengan kekecewaan, lalu pada akhirnya jauh dari atau menolak kasih dan rahmat Tuhan (Matius 18:6-9).

 

  1. Kasih antara suami istri dan antara orang tua terhadap anak harus terus meningkat (1 Korintus 13:4-7). Kasih mencakup komitmen, perhatian, perlindungan, pemeliharaan, pertanggungjawaban, dan kesetiaan. Kasih yang seharusnya diungkapkan dalam perbuatan nyata, saling berkomunikasi dan berelasi. Kasih itu juga diaktualisasikan ketika menghadapi masalah, memikiul tugas dan tanggung jawab hidup. Ketiadaan kasih diantara orang tua dapat dirasakan oleh anak, akibat selanjutnya adalah menggangu pertumbuhan watak mereka.
  1. Harus ada disiplin yakni tegaknya keseimbangan hukuman dan pujian yang dinyatakan orang tua bagi anak mereka. Disiplin itu sendiri merupakan kebutuhan dasar anak pada masa pembentukannya. Disiplin tidaklah identik dengan hukuman saja. Disiplin sebenarnya berarti pemberitahuan, penjelasan, dan pelatihan dalam hal-hal kebajikan. Melalui disiplin anak dimampukan mengenali dan memilih serta mewujudkan pilihannya dalam kebaikan itu. Disiplin orang tua bagi anak-anaknya juga berkaitan dengan pembentukan iman anak melalui pengajaran, percakapan, komunikasi formal, dan non formal. Alkitab mengajarkan bahwa orang tualah yang paling bertanggung jawab mengajari anak-anaknya dalam iman dan moral secara berulang-ulang dengan berbagai cara kreatif supaya mereka bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan (Baca: Ulangan 6:6-9; Matius 18:5-14).

Orangtualah penanggung jawab utama pendidikan rohani bagi anak-anaknya. Tanggung jawab ini tidak dapat dialihkan kepada para guru disekolah maupun sekolah minggu karena waktu yang mereka miliki untuk bergaul dengan anak-anak di sekolah maupun di gereja jauh lebih sedikit dibandingkan dengan waktu yang dimiliki oleh orangtua.

Apa artinya keluarga yang melayani?

  • Semua anggota keluarga terlibat dalam pelayanan?
  • Suami dan/atau istri terlibat, anak-anak mendukung?
  • Tidak ada yang terlibat langsung tetapi mengambil bagian dalam kegiatan gerejawi?

Tujuan utama, bukan: Keluarga yang melayani secara aktifitas dan kehadiran, melainkan pada hubungan pribadi dengan Tuhan di mana:

  • Kristus menjadi pusat kehidupan keluarga
  • Masing-masing anggota keluarga berelasi satu dengan yang lain sesuai dengan standar hidup kristiani
  • Masing-masing anggota hidup dengan Tuhan dan merespons dengan tepat pimpinan Tuhan padanya

Pertanyaan:

  • Apakah semua anak Tuhan dipanggil untuk hidup untuk-Nya dan sesuai kehendak-Nya? Ya!
  • Apakah semua anak Tuhan dipanggil untuk melayani? Ya dan Tidak!

Apakah semua anak Tuhan dipanggil untuk hidup untuk-Nya dan sesuai kehendak-Nya? Ya, dalam pengertian, semua yang kita lakukan adalah untuk Tuhan (Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia; Kolose 3:23)

Apakah semua anak Tuhan dipanggil untuk melayani? Ya, dan Tidak dalam pengertian pelayanan / jabatan gerejawi (1 Timotius 3:5,12)

Bagaimana Kondisi untuk memulai keluarga melayani:

  1. Ada suasana rohani di rumah / keluarga.
  2. Ada kesehatian tentang pentingnya pelayanan.
  3. Ada dukungan dari pasangan (suami/istri) dan anak-anak.
  4. Jika ada Waktu dan energi yang terambil dari keluarga, terkompensasikan dengan efektif